Peristiwa

Analisis Mendalam: Mengapa Prabowo Soroti Kerapuhan Perdamaian Global di Era Modern

Presiden Prabowo Subianto mengungkap pandangan kritisnya tentang kondisi dunia yang rapuh. Simak analisis mendalam dan implikasinya bagi Indonesia.

Penulis:adit
11 Maret 2026
Analisis Mendalam: Mengapa Prabowo Soroti Kerapuhan Perdamaian Global di Era Modern

Dunia yang Semakin Rapuh: Sebuah Peringatan dari Istana Negara

Bayangkan sebuah peta dunia yang diletakkan di atas meja kaca. Di beberapa titik, retakan mulai terlihat—retakan yang bukan berasal dari benturan fisik, melainkan dari gesekan geopolitik, konflik yang tak kunjung padam, dan kegagalan diplomasi. Inilah gambaran yang mungkin terlintas dalam benak kita ketika mendengar pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Nuzulul Qur'an. Bukan sekadar pidato rutin, melainkan sebuah diagnosis terhadap kondisi kesehatan planet kita yang sedang tidak baik-baik saja.

Dalam acara yang penuh khidmat di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa (10/3/2026), Prabowo menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar harapan. Ia menyampaikan sebuah peringatan. Dunia, menurutnya, sedang berada dalam fase yang "penuh ketidakpastian, bahkan penuh bahaya." Kalimat ini bukan retorika kosong. Ia adalah cerminan dari realitas yang kita saksikan setiap hari di layar kaca: perang yang berkepanjangan, ketegangan dagang yang memanas, dan krisis iklim yang mengancam. Yang menarik dari pernyataannya adalah penekanan pada kegagalan kepemimpinan global. "Banyak pemimpin di dunia yang memiliki kekuatan besar tidak dengan lancar menjaga perdamaian yang kita perlukan," ujarnya. Ini adalah kritik yang tajam, menyiratkan bahwa sumber masalah bukan hanya pada konflik itu sendiri, tetapi pada lemahnya kemauan politik di tingkat tertinggi.

Mengurai Benang Kusut Ketidakpastian Global

Lalu, ketidakpastian seperti apa yang dimaksud? Jika kita melihat data dari Institute for Economics & Peace dalam Global Peace Index 2025, tren perdamaian global memang menunjukkan penurunan untuk kesembilan kalian dalam sepuluh tahun terakhir. Intensitas konflik internal dan ketegangan antarnegara meningkat. Biaya ekonomi dari kekerasan mencapai triliunan dolar, sumber daya yang seharusnya bisa dialihkan untuk pembangunan, kesehatan, dan pendidikan. Inilah konteks yang membuat seruan Prabowo sangat relevan. Ia tidak hanya berbicara tentang filosofi perdamaian, tetapi merespons sebuah tren dunia yang nyata dan terukur.

Prabowo kemudian menawarkan resep yang ia anggap penting: persatuan dan kerukunan. Bagi Indonesia, konsep ini memiliki akar yang dalam, merujuk pada Bhinneka Tunggal Ika. Namun, ia memperluasnya ke tataran global. "Kita sebagai bangsa Indonesia bersama banyak-banyak bangsa lain, kita perlu untuk menggalang persatuan di antara kita," serunya. Ini adalah seruan untuk solidaritas internasional yang baru, di mana negara-negara berukuran menengah seperti Indonesia dapat memainkan peran katalisator, menjembatani blok-blok kekuatan yang saling bersitegang.

Optimisme di Tengah Badai: Keyakinan dan Komitmen

Di balik nada peringatan yang serius, terselip optimisme yang khas dari Prabowo. Ia menyatakan keyakinannya bahwa "yang benar akan menang." Optimisme ini bukanlah optimisme naif, melainkan optimisme yang digerakkan oleh tekad. Ia yakin Indonesia dapat mencapai cita-cita pembangunannya dengan "tekad dan komitmen yang sangat jelas dan teguh." Di sini, kita melihat perpaduan antara realisme dalam membaca ancaman global dan idealisme dalam memandang masa depan bangsa. Ia seolah berkata: dunia mungkin berbahaya, tetapi itu bukan alasan untuk menyerah; justru menjadi alasan untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas.

Bagian paling personal dari pidatonya mungkin adalah janjinya untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia. Kalimatnya tegas dan inklusif: "Seluruh rakyat Indonesia, apapun sukunya, apapun rasnya, apapun agamanya, harus dilindungi, harus dijaga, harus diurus." Janji ini adalah fondasi dari segala upaya menjaga perdamaian. Perdamaian global dimulai dari perdamaian dan keadilan di dalam negeri. Tanpa rasa aman dan keadilan bagi semua warga, sulit bagi sebuah negara untuk menjadi juru damai yang kredibel di dunia internasional. Komitmen "bekerja dengan sangat keras untuk menjaga perdamaian" kemudian menjadi logis, baik sebagai tugas domestik maupun sebagai kontribusi bagi dunia.

Refleksi: Apa Arti Peringatan Ini bagi Kita?

Pernyataan Presiden Prabowo di Istana Negara itu layak kita renungkan lebih dari sekadar sebagai berita hari itu. Ia adalah sebuah lensa untuk melihat posisi Indonesia di panggung dunia yang sedang bergejolak. Di satu sisi, kita diingatkan akan kerapuhan sistem internasional dan betapa mudahnya tatanan yang dibangun puluhan tahun dapat goyah. Di sisi lain, kita diajak untuk tidak menjadi penonton yang pasif. Seruan untuk menggalang persatuan adalah seruan untuk aksi—baik dalam diplomasi, ekonomi, maupun budaya.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang ditinggalkan oleh pidato ini mungkin adalah: Bagaimana kita, sebagai bangsa, akan merespons? Apakah kita akan terhanyut dalam arus ketidakpastian global, atau justru akan menjadi salah satu penjaga keseimbangan yang baru? Janji perlindungan untuk semua warga adalah modal sosial yang tak ternilai. Jika diwujudkan dengan konsisten, ia dapat menjadi contoh nyata bahwa masyarakat majemuk bukanlah sumber kelemahan, melainkan sumber ketahanan. Di tengah dunia yang penuh bahaya, ketahanan itulah yang paling kita butuhkan. Mungkin, dari sanalah perdamaian yang sesungguhnya akan tumbuh—bukan dari paksaan kekuatan besar, tetapi dari keteladanan dan kerja sama yang tulus antar bangsa.

Dipublikasikan: 11 Maret 2026, 10:34
Diperbarui: 12 Maret 2026, 08:00