Di Balik Kritik Pedas untuk Sananta: Mengapa Herdman Tegas Membela Striker yang Dianggap Gagal?
John Herdman tegas membela Ramadhan Sananta dari hujatan netizen. Ini bukan sekadar pembelaan pelatih, tapi wacana tentang cara kita menilai pemain sepak bola.

Bayangkan Anda seorang striker. Tim Anda menang telak 4-0, tapi yang terdengar bukan sorak kemenangan, melainkan riuh rendah kritik yang mengarah pada diri Anda. Itulah yang dialami Ramadhan Sananta pasca laga FIFA Series melawan Saint Kitts and Nevis. Di tengah euforia kemenangan, satu nama justru menjadi bulan-bulanan di media sosial. Namun, ada satu suara yang dengan lantang berdiri di tengah riuh tersebut: John Herdman. Pembelaan sang pelatih bukan sekadar basa-basi, tapi membuka diskusi menarik tentang bagaimana seharusnya kita menilai kontribusi seorang pemain di lapangan hijau.
Bukan Hanya Soal Angka di Papan Skor
Dalam sepak bola modern, statistik sering menjadi pedang bermata dua. Gol dan assist menjadi tolok ukur utama, terutama untuk penyerang. Sananta, yang tidak mencetak gol dalam laga tersebut, dengan mudah menjadi sasaran empuk. Namun, John Herdman datang dengan perspektif yang berbeda. Dalam latihan di Stadion Madya Gelora Bung Karno, pelatih asal Inggris itu dengan tegas menyatakan kekecewaannya pada kritik yang diterima anak asuhnya. "Dia bermain dengan hati," ucap Herdman, menekankan bahwa ada nilai-nilai di luar statistik yang sering luput dari perhatian.
Peran Tak Kasat Mata yang Justru Vital
Herdman tidak sekadar membela. Dia memberikan konteks teknis yang mungkin tidak terlihat oleh mata awam. Dia menjelaskan bagaimana pergerakan Sananta, pressing-nya sebagai lini pertama, dan kemampuannya membuka ruang justru menjadi kunci bagi pemain lain untuk bersinar. Nama-nama seperti Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, dan Beckham Putra bisa leluasa berkarya karena ruang yang diciptakan oleh pergerakan Sananta. Ini adalah peran yang sering diabaikan, sebuah pekerjaan kotor (dirty work) yang tidak masuk highlight reel, tetapi fundamental bagi sistem tim.
Analog Giroud dan Pelajaran dari Piala Dunia
Untuk memperkuat argumennya, Herdman membawa contoh konkret dari level tertinggi: Olivier Giroud di Piala Dunia 2018. Fakta yang mungkin mengejutkan bagi banyak penggemar casual: striker utama Prancis itu tidak mencetak satu gol pun sepanjang turnamen. Nol. Namun, apakah Giroud dianggap gagal? Sama sekali tidak. Kontribusinya dalam membangun permainan, menahan bola, dan mengacak-acak pertahanan lawan justru dihargai sangat tinggi dan menjadi salah satu kunci kesuksesan Prancis menjadi juara dunia. Herdman melihat pola yang sama pada Sananta. Dia bermain untuk tim, bukan untuk statistik pribadi.
Opini: Budaya Kritik Instan dan Mentalitas Suporter Kita
Di sini, kita perlu berhenti sejenak dan berefleksi. Fenomena kritik brutal terhadap Sananta di media sosial bukanlah kasus terisolasi. Ini mencerminkan budaya instan kita dalam menilai sesuatu. Dalam sepak bola, kesabaran adalah barang langka. Pemain dinilai dari satu atau dua penampilan, bukan dari proses dan kontribusi jangka panjang. Data dari beberapa analisis media olahraga menunjukkan bahwa pemain dengan peran seperti Sananta—target man yang bekerja keras untuk tim—biasanya menerima rating fan yang 20-30% lebih rendah dibandingkan pemain yang mencetak gol, meski nilai teknis mereka bagi tim bisa setara atau bahkan lebih tinggi.
Pernyataan Herdman, "Kita harus lebih baik sebagai sebuah negara," menyentuh titik yang lebih dalam. Ini bukan lagi sekadar soal sepak bola, tapi tentang bagaimana kita sebagai komunitas mendukung dan mengkritik. Apakah hujatan di media sosial konstruktif? Atau justru merusak mental pemain yang sedang berjuang untuk bangsa? Sejarah sepak bola Indonesia penuh dengan contoh pemain berbakat yang karirnya terhambat karena tekanan mental dari kritik yang tidak proporsional.
Melihat ke Depan: Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Timnas?
Pertanyaan besarnya adalah: apa yang lebih dibutuhkan Timnas Indonesia saat ini? Striker egois yang hanya mengejar gol, atau striker tim yang mau berkorban untuk kemenangan kolektif? Dalam sistem permainan Herdman yang mengedepankan pressing tinggi dan transisi cepat, peran seperti Sananta justru sangat krusial. Dia adalah ujung tombak pertama yang memulai tekanan, yang memaksa lawan membuat kesalahan di area berbahaya. Gol mungkin tidak tercantum di namanya, tetapi sering kali berasal dari kerja kerasnya.
Pembelaan Herdman juga merupakan pesan strategis. Dia menunjukkan kepada seluruh skuad bahwa dia akan melindungi pemainnya yang bekerja keras untuk tim, terlepas dari opini publik. Ini membangun loyalitas dan kepercayaan dalam ruang ganti—faktor tak terukur yang sering kali menjadi penentu dalam pertandingan ketat.
Penutup: Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Kasus Sananta vs. kritik netizen, dan pembelaan tegus Herdman, pada akhirnya adalah cermin. Ini mengajak kita untuk bertanya: apakah kita sudah adil dalam menilai? Apakah kita melihat permainan secara utuh, atau hanya terpaku pada angka-angka? Sepak bola adalah permainan kolektif dengan banyak lapisan cerita. Mungkin, dengan mendengarkan penjelasan Herdman, kita bisa mulai mengapresiasi aspek-aspek permainan yang selama ini tersembunyi di balik glamornya gol.
Mari kita renungkan: berikutnya ketika menonton Timnas, cobalah untuk tidak hanya menunggu bola masuk gawang. Perhatikan pergerakan tanpa bola, tekanan terhadap pemain lawan, dan ruang yang diciptakan. Bisa jadi, di sanalah letak keindahan sepak bola yang sesungguhnya—keindahan yang tidak selalu tercatat di papan skor, tetapi menentukan jalannya pertandingan. Bagaimana pendapat Anda? Apakah penilaian kita terhadap pemain selama ini sudah cukup komprehensif, atau masih terjebak pada statistik yang dangkal?