Ekonomi

Ketika Selat Hormuz Bergejolak: Bagaimana Indonesia Menyiapkan Tameng Ekonomi di Tengah Badai Timur Tengah?

Analisis mendalam dampak ketegangan geopolitik di Selat Hormuz terhadap ekonomi Indonesia, dari pasar keuangan hingga strategi pemerintah menjaga stabilitas.

Penulis:adit
12 Maret 2026
Ketika Selat Hormuz Bergejolak: Bagaimana Indonesia Menyiapkan Tameng Ekonomi di Tengah Badai Timur Tengah?

Bayangkan sebuah selat selebar 39 kilometer yang menjadi urat nadi perekonomian dunia. Setiap hari, sekitar 21 juta barel minyak—atau seperlima dari konsumsi global—mengalir melaluinya. Itulah Selat Hormuz, titik tersempit di Teluk Persia yang kini kembali menjadi pusat ketegangan geopolitik dunia. Bukan sekadar isu di peta, gejolak di sana punya denyut nadi yang langsung terasa hingga ke dompet kita di Indonesia.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan terdampak, melainkan seberapa dalam dan bagaimana kita bersiap. Dalam konferensi pers APBN KiTa baru-baru ini, Purbaya Sadewa, ekonom senior, membeberkan peta risiko yang kompleks sekaligus strategi bertahan yang sedang disusun pemerintah. Analisisnya menarik karena tidak hanya melihat ancaman, tetapi juga peluang terselubung di balik krisis.

Dari Timur Tengah ke Pasar Domestik: Rantai Dampak yang Saling Terhubung

Konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel bukanlah drama yang terisolasi. Ia seperti batu yang dilempar ke kolam tenang, menciptakan riak yang menjalar ke seluruh penjuru ekonomi global. Purbaya memetakan tiga jalur transmisi utama yang harus diwaspadai Indonesia.

Pertama, dan paling langsung, adalah jalur perdagangan. Indonesia masih menjadi importir energi netto. Data Kementerian ESDM menunjukkan, meski produksi minyak domestik ada, kita masih perlu mengimpor untuk memenuhi kebutuhan. Kenaikan harga minyak mentah dunia—yang bisa melonjak 15-30% jika lalu lintas Selat Hormuz benar-benar terganggu—akan langsung membebani neraca perdagangan. Surplus yang selama ini menjadi andalan bisa menyusut dengan cepat.

Di sinilah opini saya sebagai penulis: Kita sering lupa bahwa ketahanan energi bukan hanya soal subsidi. Ini tentang diversifikasi sumber dan efisiensi konsumsi. Krisis ini seharusnya menjadi alarm keras untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan, investasi dalam energi bersih di Asia Tenggara masih jauh di bawah potensinya.

Pasar Keuangan: Saat Sentimen Global Berubah dalam Sekejap

Jalur kedua adalah pasar keuangan, wilayah yang bereaksi lebih cepat daripada kapal tanker mana pun. Purbaya menyoroti fenomena risk-off yang sudah mulai terlihat. Indeks VIX ("indeks ketakutan") dan MOVE (volatilitas obligasi) mengalami peningkatan, tanda bahwa investor global sedang dalam mode waspada tinggi.

Apa artinya bagi kita? Modal asing yang selama ini mengalir deras ke pasar saham dan obligasi Indonesia bisa berbalik arah dengan cepat. Mereka akan mencari safe haven seperti obligasi pemerintah AS atau emas. Imbasnya bisa berupa tekanan pada nilai tukar Rupiah dan penurunan harga aset finansial domestik. Sebuah data unik dari Bloomberg menunjukkan, selama periode ketegangan geopolitik serupa di 2019, arus modal asing keluar dari pasar emerging markets Asia mencapai miliaran dolar hanya dalam hitungan minggu.

Dilema Fiskal: Antara Membantu Rakyat dan Menjaga Kesehatan Anggaran

Jalur ketiga mungkin yang paling rumit: sisi fiskal pemerintah. Di satu sisi, kenaikan harga energi global akan meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik jika pemerintah memilih untuk menstabilkan harga di dalam negeri. Di sisi lain, kenaikan suku bunga global—sebagai respons dari ketidakpastian—akan meningkatkan biaya pembayaran bunga utang pemerintah yang sebagian denominasinya dalam mata uang asing.

Namun, analisis Purbaya memberikan sudut pandang yang mengejutkan: tidak semua dampaknya negatif. Indonesia memiliki kartu as di tangan. Lonjakan harga komoditas global juga mengerek harga ekspor andalan kita seperti batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit (CPO). Pada kuartal pertama 2026 saja, kenaikan harga batu bara thermal telah memberikan tambahan penerimaan negara yang signifikan. Ini adalah buffer alami yang tidak dimiliki banyak negara importir energi murni.

Strategi Bertahan: Lebih dari Sekedar Memantau

Lalu, apa yang sedang dilakukan? Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya pasif memantau. Instrumen APBN, menurutnya, sedang disiapkan untuk merespons secara fleksibel dan tepat sasaran. Ini mencakup beberapa kemungkinan:

  • Penyesuaian Anggaran: Mengalokasikan cadangan fiskal untuk penanganan dampak krisis energi, dengan tetap menjaga program perlindungan sosial untuk masyarakat rentan.
  • Koordinasi Kebijakan: Sinergi antara Kementerian Keuangan, BI, dan OJK untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan.
  • Diplomasi Energi: Memperkuat kerjasama dengan negara produsen energi lain untuk menjamin pasokan, sekaligus mempercepat realisasi proyek energi terbarukan dalam negeri.

Yang menarik dari penjelasan Purbaya adalah penekanannya pada resilience atau ketahanan, bukan sekadar stabilisasi. Artinya, sistem ekonomi didesain untuk bisa menyerap guncangan dan bangkit kembali, bukan hanya bertahan di tempat.

Refleksi Akhir: Krisis sebagai Katalis Perubahan

Pada akhirnya, setiap krisis membawa dua sisi: ancaman dan pelajaran. Ketegangan di Selat Hormuz, meski terjadi ribuan kilometer jauhnya, adalah pengingat nyata betapa terhubungnya ekonomi kita dengan dinamika global. Ini adalah ujian nyata bagi ketahanan nasional kita—bukan hanya di bidang militer, tetapi terutama di bidang ekonomi.

Pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: Apakah struktur ekonomi kita sudah cukup tangguh untuk menghadapi badai ketidakpastian yang mungkin menjadi norma baru? Apakah ketergantungan pada komoditas dan energi impor adalah jalan yang berkelanjutan? Jawaban Purbaya dan pemerintah tampaknya mengarah pada perlunya transformasi yang lebih mendasar.

Sebagai penutup, izinkan saya beropini: Momen seperti ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai risiko yang harus diminimalkan, tetapi juga sebagai momentum yang memaksa kita untuk berinovasi. Mungkin, justru dari tekanan geopolitik inilah lahir terobosan kebijakan energi, diversifikasi ekonomi, dan penguatan pasar keuangan domestik yang selama ini tertunda. Bagaimana menurut Anda? Sudah siapkah kita tidak hanya menghadapi gelombang, tetapi juga belajar untuk berlayar dengan lebih baik di samudera ketidakpastian global?

Dipublikasikan: 12 Maret 2026, 06:50
Diperbarui: 12 Maret 2026, 12:00